Kyfi's Blog

HIPERTIROID DAN HIPOTIROID

Posted on: Maret 16, 2011

I.Pengertian

a. Hipertiroid

-  Pengeluaran hormone tiroid yang berlebihan diperkirakan terjadi akibat   stimulasi abnormal kelenjar tiroid oleh immunoglobulin dalam darah

-  Hipertiroidi ialah sekresi hormone tiroid yang berlebihan, dimanifestasikan melalui peningkatan metabolisme.

 

b.Hipotiroidisme

-  Hipotiroidisme ialah sekresi tiroid yang tidak adekuat selama perkembangan janin dan neonatus yang nantinya akan menghambat pertumbuhan fisik dan mental (kretinisme), karena penekanan aktivitas metabolic tubuh secara umum.Pada orang dewasa hipotiroidisme memiliki gambaran klinik berupa letargi,proses berfikir yang lambat dan perlambatan fungsi yang menyeluruh

- Keadaan yang ditandai dengan terjadinya hipofungsi tiroid yang berjalan lambat dan diikuti oleh tanda-tanda kegagalan tiroid.

 

 

II. Etiologi

a. Hipertiroid

Tiroiditis dan penggunaan hormone tiroid yang berlebihan

 

b. Hipotiroid

Tiroiditis autoimun (tiroiditis Hashimoto), dimana system imun menyerang kelenjar tiroid.

 

 

Tipe

  1. hipotiroidisme primer  : atau tiroidal yang mengacu pada disfungsi kelenjar tiroid
  2. Hipotiroidisme sentral : disfungsi tiroid disebabkan oleh kegagalan kelenjar hipofisis, hipotalamus
  3. Hipotiroidisme sekunder / pituitaria : sepenuhnya oleh kelainan hipofisis
  4. Hipotiroidisne tertier   : kelainan hipotalamus yang mengakibatkan sekresi TSH tidah adekuat atau penurunan TRH

 

 

III. Patofisiologi

  1. Hipotiroid

 

Kelainan hipotalamus       Hipertiroidisme     ibu penderita       Tiroiditis autoimun

defisiensi tiroid

 

 

 

stimulasi TRH      Terapi pembedahan                          Sistem imun merangsang

preparat antitiroid                                kelenjar tiroid

 

 

 

Sekresi TSH tidak                 sekresi TSH

adekuat

 

 

 

Hipotiroid

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Hipertiroid

 

Penyakit Grave           Tiroiditis          Golter multinodular toksik         Tumor

 

 

 

Merangsang              Bakteri,jamur,                autoimun tiroid           Kadar TSH

aktivitas tiroid                parasit

 

 

 

Inflamasi pada

kelenjar tiroid

 

 

 

masuk aliran darah

 

 

 

hipertiroidisme

 

 

 

IV. Manifestasi Klinis

  1. Hipertiroid
    1. Gelisah (peka rangsang berlebihan dengan emosional), mudah marah, ketakutan, tidak dapat duduk dengan tenang, menderita karena palpitasi, nadi cepat dalam istirahat dan latihan.
    2. Toleransi terhadap panas buruk dan banyak berkeringat, kulit kemerahan dan mudah menjadi lunak,hangat dan lembab.
    3. Pasien lansia mungkin mengeluhkan kulit kering gatal-gatal menyebar
    4. Mungkin teramati tremor halus tangan
    5. Mungkin menunjukkan eksoftalmus
    6. Gejala lain mencangkup peningkatan nafsu makan dan masukan diet, penurunan berat badan progresif,otot secara abnormal mudah letih, kelemahan,amenore, dan perubahan fungsi usus (diare)
    7. Kisaran nadi antara 90 dan 100 kali permenit, tekanan darah sistolik (bukan diastolic) meningkat.
    8. Mungkin terjadi fibrilasi atrium dan dekompensasi jantung dalam bentuk gagal jantung kongestif, terutama pada pasien lansia.
    9. Osteoporosis dan fraktur

10.  Penyekit dapat ringan dengan eksaserbasi dan remisi, berakhir dengan pemulihan spontan dalam beberapa bulan atau tahun

11.  Mungkin berkembang perilaku tidak mempunyai belas kasihan kelompok menyebabkan tubuh kurus, sangat gelisah, delirium,disorientasi, akhirnya gagal jantung

12.  Gelisah dapat disebabkan oleh pemberian hormone tiroid yang berlebihan untuk mengobati hipertiroidisme

 

 

  1. Hipotiroid

Gejala dini hipotiroid tidak spesifik, namun terdapat tanda-tanda dan gejala yang meliputi:

  1. Kelelahan yang ekstrim
  2. Kerontokan rambut
  3. Kuku rapuh
  4. kulit kering
  5. rasa baal
  6. parestasia pada jari-jari tangan
  7. suara kasar atau parau
  8. gangguan haid (menoragia atau menorrhea) disamping hilangnya libido

 

Pada hipotiroid berat mengakibatkan:

  1. suhu tubuh dan frekuensi nadi subnormal
  2. kenaikan berat badan
  3. kulit menjadi tebal
  4. rambut menipis dan rontok
  5. wajah tampak tanpa ekspresi dan mirip topeng
  6. rasa dingin meski lingkungan hangat
  7. apatis
  8. konstipasi
  9. kenaikan kadar kolesterol serum, aterosklerosis, penyakit jantung koroner, fungsi ventrikel kiri jelek.

Pada hipotiroidisme lanjut dapat menyebabkan dimensia disertai perubahan kognitif dan kepribadian yang khas.Respirasi dan apnea dapat terjadi.Serta efusi pleura dan efusi pericardial.

Koma miksedema menggambarkan stadium hipotiroidisme yang paling ekstrim dan berat, dimana pasien mengalami hipotermi dan tak sadarkan diri.

 

 

V. Komplikasi

a. Hipertiroid

Terjadi krisis tirotoksik (tyroid storm)

 

b. Hipotiroid

1. Meningkatkan kolesterol

2. Iskemia / infark miokard

 

 

VI. Pemeriksaan Penunjang

a. Hipertiroidisme

|  T4 Serum

Ditemukan peningkatan T4 serum pada hipertiroid.T4 serum normal antara 4,5 dan 11,5 mg/dl (58,5 hingga 150 nmol/L).Kadar T4 serum merupakan tanda yang akurat untuk menunjukkan adanya hipertiroid.

|  T3 Serum

Kadar T3 serum biasanya meningkat.Normal T3 serum adalah 70-220 mg/dl (1,15 hingga 3,10 nmol/L).

 

 

|  Tes T3 Ambilan Resin

Pada hipertiroid, ambilan T3 lebih besar dari 35% (meningkat).Normal ambilan t3 ialah 25% hingga 35% (fraksi ambilan relative: 0,25 hingga 0,35).

|  Tes TSH (Thyroid Stimulating Hormon)

Pada hipertiroid ditemukan kenaikan kadar TSH serum

|  Tes TRH (Thyrotropin Releasing Hormon)

Tes TRH akan sangat berguna bila Tes T3 dan T4 tidak dapat dianalisa.Pada hipertiroidisme akan ditemukan penurunan kadar TRH serum.

|  Tiroslobulin

Pemeriksaan Tiroslobulin melalui pemeriksaan radio immunoassay.Kadar tiroslobulin meningkat pada hipertiroid.

 

b. Hipotiroidisme

|  T4 Serum

Penentuan T4 serum dengan tekhnik radio immunoassay pada hipotiroid ditemukan kadar T4 serum normal sampai rendah.Normal kadar T4 serum diantara 4,5 dan 11,5 mg/dl (58,5 hinnga 150 nmol/L)

|  T3 Serum

Kadar T3 serum biasanya dalam keadaan normal-rendah.Normal kadar T3 serum adalah 70 hingga 220 mg/dl (1,15 hingga 3,10 nmol/L)

|  Tes T3 Ambilan Resin

Pada hipotiroidisme, maka hasil tesnya kurang dari 25% (0,25)

|  Tes TRH (Thyrotropin Releasing Hormon)

Pada hipotiroid yang disebabkan oleh keadaan kelenjar tiroid maka akan ditemukan peningkatan kadar TSH serum.

 

 

VII. Penatalaksanaan

a. Hipertiroidisme

Tidak ada pengobatan yang ditujukan untuk menghilangkan gejala penatalaksanaan bergantung pada etiologi hipertiroidisme.

  1. Farmakologi terapi dengan obat antihipertiroid.
  2. Iridasi termasuk pemberian      I  atau       I  untuk mendapatkan efek destruksi pada kelenjar tiroid
  3. Pembedahan dengan pengangkatan sebagian besar kelenjar tiroid

 

Farmakoterapi

  1. Tujuan farmakoterapi untuk menghambat pelepasan atau sintetis hormone
  2. Pengobatan yang paling umum digunakan adalah propitiourasil (propacil, PTU), atau metimazol (tapazole)
  3. Tetapkan dosis rumatan, diikuti dengan penghentian obatan secara bertyahap selama beberapa bulan.
  4. Obat anti tiroid merupakan kontraindikasi pada kehamilan akhir, resiko untuk gondokkan dan kretinisme pada janin.

 

Agen Beta-Adrenergik

  1. Mungkin digunakan untuk mengontrol efek saraf simpatis yang terjadi pada hipertiroidisme.
  2. Propandol digunakan untuk kegelisahan, takikardi, tremor, ansietas, dan intoleransi panas

 

Radioaktif Iodin (     I)

  1. I diberikan untuk menghancurkan sel-sel tiroid yang overaktif .
  2. I merupakan kontraindikasi dalam kehamilan dan ibu menyusui karena radio iodine menembus plasenta dan sekresikan ke dalam ASI.

 

b. Hipotiroid

Tujuan primer penatalalaksanaan hipotiroidisme ialah memulihkan metabolisme pasien kembali kepada keadaan metabolic normal, dengan cara mengganti hormone yang hilang.Livotiroksin sintetik (Synthroid atau levothroid) merupakan preparat terpilih untuk pengobatan hipotiroidisme dan supresi penyakit goiter nontoksik.Dosis terapi penggantian hormonal berdasarkan pada konsentrasi TSH  dalam serum pasien.Preparat tiroid yang dikeringkan jarang digunakan karena sering menyebabkan kenaikan sementara konsentrasi T3 dan kadang-kadang disertai dengan gejala hipertiroidisme.

Hal-hal yang bisa dilakukan pada pasien dengan hipotiroid antara lain:

|  pemeliharaan fungsi vital

|  gas darah arteri

|  pemberian cairan dilakukan dengan hati-hati karena bahaya intoksikasi air.

|  infus larutan glukosa pekat

|  terapi kortikosteroid

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Hipertiroidme

 

 

I. Pengkajian

a.  Aktivitas / istirahat

Gejala     : insomnia, sensitivitas meningkat,otot lemah,gangguan koordinasi,

Kelelahan berat.

Tanda     : atropi otot

 

b. Sirkulasi

Gejala     : palpitasi, nyeri dada (angina)

Tanda     : disritmia (vibrilasi atrium), irama gallop, murmur, peningkatan

tekanan darah, takikardia, sirkulasi kolaps, syok.

 

c. Eliminasi

Gejala     : urin dalam jumlah banyak, diare.

 

d. Intregitas Ego

Gejala     : mengalami stress yang berat baik emosional maupun fisik.

Tanda     : emosi labil, depresi.

 

e. Makanan / Cairan

Gejala     : kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat,

makan banyak, kehausan, mual, dan muntah

Tanda     : pembesaran tiroid, edema non – fitting

 

f. Pernapasan

Tanda     : frekuensi pernapasan meningkat, takipnea, dispnea

 

g. Seksualitas

Tanda  : penurunan libido,hipomenorea,amenore, dan impotent

 

 

 

II. Diagnosa Keperawatan

  1. Resiko terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan beban kerja jantung
  2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat.
  3. Perubahan suhu tubuh hipertemi berhubungan dengan status hipermetabolik sekunder terhadap hiperaktivitas kelenjar tiroid.
  4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan sekunder akibat laju metabolic.

 

 

III. Intervensi

1. Diagnosa  I        : Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan

peningkatan beban kerja jantung

Tujuan               : Klien dapat mempertahankan curah jantung yang adekuat

KH                   : Tidak terjadi penurunan curah jantung/ curah jantung adekuat.

Intervensi          :

œ Kaji tanda-tanda vital

œ Kaji intake – output cairan dan membrane mukosa kering

œ Kaji pengisian kapiler

œ Timbang berat badan setiap hari

œ Anjurkan untuk tirah baring

œ Batasi aktivitas yang tidak perlu

 

 

2. Diagnosa II       : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan intake nutrisi yang tidak adekuat

Tujuan             : Klien dapat mempertahankan intake nutrisi yang adekuat

sesuai diet makanan

KH                  : – Berat badan stabil

- Tidak adanya tanda-tanda malnutrisi

Intervensi        :

œ Kaji bising usus

œ Kaji pola nutrisi

œ Kaji adanya anoreksia, mual,muntah

œ Berikan makanan tinggi kalori yang mudah dicerna

œ Hindari makanan yang dapat meningkatan peristaltic usus

œ Timbang berat badan setiap hari

 

 

3. Diagnosa III      : Perubahan suhu tubuh berhubungan dengan status

hipermetabolik sekunder terhadap hiperaktifitas kelenjar tiroid

Tujuan             : Klien dapat mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal

(36-37  C)

KH                  : Penurunan suhu tubuh sampai batas normal (36- 37  C)

Intervensi        :

œ Kaji tanda-tanda vital

œ Pantau suhu tubuh setiap 2-4 jam

œ Anjurkan klien untuk banyak minum

œ Anjurkan untuk mengenakan pakaian yang longgar dan tipis

œ Berikan kompres air biasa

œ Kolaborasi mengenai pemberian terapi

 

 

4. Diagnosa IV      : Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelelahan sekunder

akibat hipermetabolik

Tujuan             : Klien dapat melakukan aktifitas sesuai kebutuhan secara

mandiri

KH                  : Klien berpartisipasi dalam melakukan perawatan secara

mandiri

Intervensi        :

œ Kaji tanda-tanda vital saat istirahat maupun saat beraktivitas

œ Kaji adanya sianosis, pucat, takipnea, dispnea

œ Anjurkan untuk meningkatkan istirahat

œ Batasi aktifitas klien

œ Berikan lingkungan/ suasana yang tenang

œ Anjurkan untuk melakukan aktifitas pengganti yang tidak melelahkan, seperti membaca, menonton tv atau mendengarkan radio.

Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Hipotiroid

 

I. Pengkajian

Kadar elektrolit (Ca2 dan PO34)

Kejang, kesemutan

Tanda chuostek dan Trousseau

Dispnea

Stridor laring, bronkospasme

Sianosis, disritmia

Keadaan kulit kasar,kering, bersisik

Kuku menjadi tipis dan rapuh

Rambut, alis, dan bulu mata jarang dan tipis

Ansietas

Asupan dan keluaran setiap 8 jam

Nausea, vomitus, nyeri abdomen

Adanya ketidaknyamanan (nyeri tulang), lemah, parastesia

Konstipasi, poliuria

 

 

II. Diagnosa Keperawatan

  1. pola nafas tidak efektif berhubungan dengan depresi ventilasi
  2. perubahan suhu tubuh, hipotermi berhubungan dengan penurunan status metabolic sekunder
  3. konstipasi berhubungan dengan penurunan fungsi gastrointestinal
  4. intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan kognitif

 

 

III. Intervensi

  1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan depresi ventilasi

Tujuan             : perbaikan status respiratori dan pemeliharaan pola nafas yang

normal

Kriteria Hasil   : – memperlihatkan perbaikan status pernafasan dan pemeliharaan

pola nafas yang normal

- menunjukkan kedalaman dan pola respirasi yang normal

- menunjukkan pola nafas yang normal tanpa bising tambahan pada

auskultasi

Intervensi         :

- pantau frekuensi kedalaman pola pernapasan  : oksimetri denyut nadi

- dorong pasien untuk nafas dalam

- berikan terapi sesuai program

 

 

  1. Perubahan suhu tubuh , hipotermi berhubungan dengan penurunan status metabolic sekunder

Tujuan             : pemeliharaan suhu tubuh yang normal

Kriteria Hasil   : – mempertahankan suhu tubuh normal

- melaporkan rasa hangat yang adekuat dan berkurangnya gejala

menggigil

- menggunakan tambahan lapisan pakaian atau tambahan selimut

Intervensi         :

- Pantau suhu tubuh normal

- Hindari dan cegah penggunaan sumber panas dari luar

- Berikan tambahan lapisan pakaian atau tambahan selimut

 

 

3.    Konstipasi berhubungan dengan penurunan fungsi gastrointestinal

Tujuan             : Pemulihan fungsi usus yang normal

Kriteria Hasil   : – melaporkan fungsi usus yang normal

- mengenali dan mengkonsumsi makanan kaya serat

- minum cairan sesuai yang dianjurkan setiap hari

- mencapai pemulihan kepada fungsi usus yang normal

Intervensi         :

- Pantau fungsi usus

- Berikan makanan kaya serat

- Dorong peningkatan asupan cairan dalam batas-batas retriksi cairan

- Ajarkan kepada klien tentang jenis-jenis makanan yang banyak mengandung air

 

 

4.   Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan kognitif

Tujuan             : meningkatkan partisipasi dalam aktifitas dan kemandirian

Kriteria Hasil   : – melaporkan penurunan tingkat kelelahan

- memperlihatkan perhatian dan kesadaran pada lingkungan

- berpartisipasi dalam aktifitas dan berbagai kejadian dalam

lingkungan

- beraktifitas dalam perawatan mandiri

Intervensi            :

- pantau respon klien terhadap peningkatan aktivitas

- berikan stimulasi melalui percakapan dan aktivitas yang tidak menimbulkan stress

- Bantu aktivitas perawat mandiri ketika pasien berada dalam keadaan lelah

 

 

 

 

 

 

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: