Kyfi's Blog

EJAAN & PENULISAN KATA BAHASA INDONESIA YANG BAIK & BENAR

Posted on: Oktober 28, 2010

Penulisan kata

Berikut adalah ringkasan pedoman umum penulisan kata.

  1. Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Contoh: Ibu percaya bahwa engkau tahu.
  2. Kata turunan (lihat pula penjabaran di bagian Kata turunan)
    1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasar. Contoh: bergeletar, dikelola [1].
    2. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: bertepuk tangan, garis bawahi
    3. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan ditulis serangkai. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: menggarisbawahi, dilipatgandakan.
    4. Jika salah satu unsur gabungan hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata ditulis serangkai. Contoh: adipati, mancanegara.
    5. Jika kata dasar huruf awalnya adalah huruf kapital, diselipkan tanda hubung. Contoh: non-Indonesia.
  3. Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung, baik yang berarti tunggal (lumba-lumba, kupu-kupu), jamak (anak-anak, buku-buku), maupun yang berbentuk berubah beraturan (sayur-mayur, ramah-tamah).
  4. Gabungan kata atau kata majemuk
    1. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, ditulis terpisah. Contoh: duta besar, orang tua, ibu kota, sepak bola.
    2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian. Contoh: alat pandang-dengar, anak-istri saya.
    3. Beberapa gabungan kata yang sudah lazim dapat ditulis serangkai. Lihat bagian Gabungan kata yang ditulis serangkai.
  5. Kata ganti (kau-, ku-, -ku, -mu, -nya) ditulis serangkai. Contoh: kumiliki, kauambil, bukumu, miliknya.
  6. Kata depan atau preposisi (di[1], ke, dari) ditulis terpisah, kecuali yang sudah lazim seperti kepada, daripada, keluar, kemari, dll. Contoh: di dalam, ke tengah, dari Surabaya.
  7. Artikelsi dan sang ditulis terpisah. Contoh: Sang harimau marah kepada si kancil.
  8. Partikel
    1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai. Contoh: bacalah, siapakah, apatah.
    2. Partikel -pun ditulis terpisah, kecuali yang lazim dianggap padu seperti adapun, bagaimanapun, dll. Contoh: apa pun, satu kali pun.
    3. Partikel per- yang berarti “mulai”, “demi”, dan “tiap” ditulis terpisah. Contoh: per 1 April, per helai.
  9. Singkatan dan akronim. Lihat Wikipedia:Pedoman penulisan singkatan dan akronim.
  10. Angka dan bilangan. Lihat Wikipedia:Pedoman penulisan tanggal dan angka.

Kata turunan

Secara umum, pembentukan kata turunan dengan imbuhan mengikuti aturan penulisan kata yang ada di bagian sebelumnya. Berikut adalah beberapa informasi tambahan untuk melengkapi aturan tersebut.

Jenis imbuhan

Jenis imbuhan dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan menjadi:

  1. Imbuhan sederhana; hanya terdiri dari salah satu awalan atau akhiran.
    1. Awalan: me-, ber-, di-, ter-, ke-, pe-, per-, dan se-
    2. Akhiran: -kan, -an, -i, -lah, dan -nya
  2. Imbuhan gabungan; gabungan dari lebih dari satu awalan atau akhiran.
    1. ber-an dan ber-i
    2. di-kan dan di-i
    3. diper-kan dan diper-i
    4. ke-an dan ke-i
    5. me-kan dan me-i
    6. memper-kan dan memper-i
    7. pe-an dan pe-i
    8. per-an dan per-i
    9. se-nya
    10. ter-kan dan ter-i
  3. Imbuhan spesifik; digunakan untuk kata-kata tertentu (serapan asing).
    1. Akhiran: -man, -wan, -wati, dan -ita.
    2. Sisipan: -in-,-em-, -el-, dan -er-.

Awalan me-

Pembentukan dengan awalan me- memiliki aturan sebagai berikut:

  1. tetap, jika huruf pertama kata dasar adalah l, m, n, q, r, atau w. Contoh: me- + luluh → meluluh, me- + makan → memakan.
  2. me-mem-, jika huruf pertama kata dasar adalah b, f, p*, atau v. Contoh: me- + baca → membaca, me- + pukul → memukul*, me- + vonis → memvonis, me- + fasilitas + i → memfasilitasi.
  3. me-men-, jika huruf pertama kata dasar adalah c, d, j, atau t*. Contoh: me- + datang → mendatang, me- + tiup → meniup*.
  4. me-meng-, jika huruf pertama kata dasar adalah huruf vokal, k*, g, h. Contoh: me- + kikis → mengikis*, me- + gotong → menggotong, me- + hias → menghias.
  5. me-menge-, jika kata dasar hanya satu suku kata. Contoh: me- + bom → mengebom, me- + tik → mengetik, me- + klik → mengeklik.
  6. me-meny-, jika huruf pertama adalah s*. Contoh: me- + sapu → menyapu*.

Huruf dengan tanda * memiliki sifat-sifat khusus:

  1. Dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf vokal. Contoh: me- + tipu → menipu, me- + sapu → menyapu, me- + kira → mengira.
  2. Tidak dilebur jika huruf kedua kata dasar adalah huruf konsonan. Contoh: me- + klarifikasi → mengklarifikasi.
  3. Tidak dilebur jika kata dasar merupakan kata asing yang belum diserap secara sempurna. Contoh: me- + konversi → mengkonversi.

Aturan khusus

Ada beberapa aturan khusus pembentukan kata turunan, yaitu:

  1. ber- + kerja → bekerja (huruf r dihilangkan)
  2. ber- + ajar → belajar (huruf r digantikan l)
  3. pe + perkosa → pemerkosa (huruf p luluh menjadi m)
  4. pe + perhati → pemerhati (huruf p luluh menjadi m)

Penggunaan “di mana” sebagai penghubung dua klausa

Untuk menghubungkan dua klausa tidak sederajat, bahasa Indonesia TIDAK mengenal bentuk “di mana” (padanan dalam bahasa Inggris adalah “who”, “whom”, “which”, atau “where”) atau variasinya (“dalam mana”, dengan mana”, dan sebagainya). Penggunaan “di mana” sebagai kata penghubung sangat sering terjadi pada penerjemahan naskah dari bahasa-bahasa Indo-Eropa ke bahasa Indonesia. Pada dasarnya, bahasa Indonesia hanya mengenal kata “yang” sebagai kata penghubung untuk kepentingan itu dan penggunaannya pun terbatas. Dengan demikian, HINDARI PENGGUNAAN BENTUK “DI MANA”, apalagi “dimana”, termasuk dalam penulisan keterangan rumus matematika. Sebenarnya selalu dapat dicari struktur yang sesuai dengan kaidah tata bahasa Indonesia.

Contoh-contoh:
(1) Dari artikel Kantin: … kantine adalah sebuah ruangan dalam sebuah gedung umum di mana para pengunjung dapat makan … .

  • Usul perbaikan: … kantine adalah sebuah ruangan di dalam sebuah gedung umum yang dapat digunakan (oleh) pengunjungnya untuk makan … .

(2) Dari artikel Tegangan permukaan: Teganganpermukaan = F / L dimana :

F = gaya (newton)
L = panjang m).[sic]
  • Usul perbaikan: Apabila F = gaya (newton) dan L = panjang (m), tegangan permukaan S dapat ditulis sebagai S = F / L.
Di sini tampak bahwa “apabila” menggantikan posisi “di mana” (ditulis di kalimat asli sebagai “dimana”).

(3) Dari kalimat bahasa Inggris: Land which is to be planted only with rice … .

  • Usul terjemahan: Lahan yang akan ditanami padi saja … .

Kata penghubung “sedangkan”

Kesalahan penggunaan kata penghubung yang juga sering kali terjadi adalah yang melibatkan kata “sedangkan”. “Sedangkan” adalah kata penghubung dua klausa berderajat sama, sama seperti “dan”, “atau”, serta “sementara”. Dengan demikian secara tata bahasa ia TIDAK PERNAH bisa mengawali suatu kalimat (tentu saja lain halnya dalam susastra!). Namun justru di sini sering terjadi kesalahan dalam penggunaannya. “Sedangkan” digunakan untuk mengawali kalimat, padahal untuk posisi itu dapat dipakai kata “sementara itu”.

Contoh: Dari harian Jawa Pos:

“Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini, 6.208.951 pemilih terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap). Sedangkan jumlah total TPS se-Banten ada 12.849.”

Usulan perbaikan 1:

“Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini ada 6.208.951 pemilih terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap) sedangkan jumlah total TPS se-Banten ada 12.849.”

Usulan perbaikan 2:

“Sebelumnya disebutkan, dalam pilgub Banten kali ini ada 6.208.951 pemilih terdaftar dalam DPT (daftar pemilih tetap). Sementara itu, jumlah total TPS se-Banten ada 12.849.” 

Gabungan kata yang ditulis serangkai

  1. acapkali
  2. adakalanya
  3. akhirulkalam
  4. alhamdulillah
  5. astagfirullah
  6. bagaimana
  7. barangkali
  8. bilamana
  9. bismillah
  10. beasiswa
  11. belasungkawa
  12. bumiputra
  13. daripada
  14. darmabakti
  15. darmasiswa
  16. dukacita
  17. halalbihalal
  18. hulubalang
  19. kacamata
  20. kasatmata
  21. kepada
  22. keratabasa
  23. kilometer
  24. manakala
  25. manasuka
  26. mangkubumi
  27. matahari
  28. olahraga
  29. padahal
  30. paramasastra
  31. peribahasa
  32. puspawarna
  33. radioaktif
  34. sastramarga
  35. saputangan
  36. saripati
  37. seringkali
  38. sebagaimana
  39. sediakala
  40. segitiga
  41. sekalipun
  42. silaturahmi
  43. sukacita
  44. sukarela
  45. sukaria
  46. syahbandar
  47. titimangsa
  48. wasalam

Kata yang sering salah dieja

Daftar ini disusun menurut urutan abjad. Kata pertama adalah kata baku menurut KBBI (kecuali ada keterangan lain) dan dianjurkan digunakan, sedangkan kata-kata selanjutnya adalah variasi ejaan lain yang kadang-kadang juga digunakan.

  1. aktif, aktip
  2. aktivitas, aktifitas
  3. Alquran, al-Qur’an, Al-Qur’an, al Qur’an, Al Qur’an (maupun tanpa ['])
  4. analisis, analisa
  5. Anda, anda
  6. apotek, apotik (ingat: apoteker, bukan apotiker)
  7. asas, azas
  8. atlet, atlit (ingat: atletik, bukan atlitik)
  9. bus, bis
  10. besok, esok
  11. diagnosis, diagnosa
  12. Ekstrakurikuler, ekstrakulikuler
  13. ekstrem, ekstrim
  14. embus, hembus
  15. Februari, Pebruari
  16. frekuensi, frekwensi
  17. foto, photo
  18. gladi, geladi
  19. hierarki, hirarki
  20. hipnosis (nomina), menghipnosis (verba), hipnotis (adjektiva)
  21. ibu kota, ibukota
  22. ijazah, ijasah
  23. imbau, himbau
  24. indera, indra
  25. inderagiri, indragiri
  26. istri, isteri
  27. izin, ijin
  28. jadwal, jadual
  29. jenderal, jendral
  30. Jumat, Jum’at
  31. kacamata, kaca mata
  32. kanker, kangker
  33. karier, karir
  34. Katolik, Katholik
  35. kendaraan, kenderaan
  36. komoditas, komoditi [2][3]
  37. komplet, komplit
  38. konkret, konkrit, kongkrit
  39. kosa kata, kosakata
  40. kualitas, kwalitas, kwalitet [2]
  41. kuantitas, kwantitas [2]
  42. kuitansi, kwitansi
  43. kuno, kuna[4]
  44. lokakarya, loka karya
  45. maaf, ma’af
  46. makhluk, mahluk, mahkluk (salah satu yang paling sering salah)
  47. mazhab, mahzab
  48. metode, metoda
  49. mungkir, pungkir (Ingat!)
  50. nakhoda, nahkoda, nakoda
  51. napas, nafas
  52. narasumber, nara sumber (berlaku juga untuk kata belakang lain)
  53. nasihat, nasehat
  54. negatif, negatip (juga kata-kata lainnya yang serupa)
  55. November, Nopember
  56. objek, obyek
  57. objektif, obyektif/p
  58. olahraga, olah raga
  59. orang tua, orangtua
  60. paham, faham
  61. persen, prosen
  62. pelepasan, penglepasan
  63. penglihatan, pelihatan; pengecualian
  64. permukiman, pemukiman
  65. perumahan, pengrumahan; baik untuk arti housing maupun PHK
  66. pikir, fikir
  67. Prancis, Perancis [5]
  68. praktik, praktek (Ingat: praktikum, bukan praktekum)
  69. provinsi, propinsi
  70. putra, putera
  71. putri, puteri
  72. realitas, realita
  73. risiko, resiko
  74. saksama, seksama (Ingat!)
  75. samudra, samudera
  76. sangsi (=ragu-ragu), sanksi (=konsekuensi atas perilaku yang tidak benar, salah)
  77. saraf, syaraf
  78. sarat (=penuh), syarat (=kondisi yang harus dipenuhi)
  79. sekretaris, sekertaris
  80. sekuriti, sekuritas [2]
  81. segitiga, segi tiga
  82. selebritas, selebriti
  83. sepak bola, sepakbola
  84. silakan, silahkan (Ingat!)
  85. sintesis, sintesa
  86. sistem, sistim
  87. surga, sorga, syurga
  88. subjek, subyek
  89. subjektif, subyektif/p
  90. Sumatra, Sumatera
  91. standar, standard
  92. standardisasi, standarisasi [6]
  93. tanda tangan, tandatangan
  94. takhta, tahta
  95. teknik, tehnik
  96. telepon, tel(f/p)on, telefon, tilpon
  97. teoretis, teoritis (diserap dari: theoretical)
  98. terampil, trampil
  99. ubah (=mengganti), rubah (=serigala) — sepertinya kedua-duanya berlaku
  100. utang, hutang (Ingat: piutang, bukan pihutang)
  101. walikota, wali kota
  102. Yogyakarta, Jogjakarta
  103. zaman, jaman

Catatan kaki

  1. ^abdi dapat juga berfungsi baik sebagai imbuhan yang harus dirangkai penulisannya maupun kata depan yang harus dipisah penulisannya. Kesalahan penulisan di merupakan salah satu kesalahan yang sangat umum ditemukan.
  2. ^abcd Tidak semua akhiran -ty dalam bahasa Inggris dialih-bahasakan menjadi -tas walaupun tak dimungkiri bahwa mayoritasnya demikian, dalam hal ini berlaku kata-kata seperti sekuriti dan komoditi yang menggunakan sistem kedua (-ti bukan -tas), hal yang sama berlaku pada kata properti (bukan propertas). Kata-kata lainnya misalnya kuantitas memang menggunakan penerjemahan -tas. Lihat Wikipedia:Pedoman penyerapan istilah.
  3. ^ Maaf saya ganti lagi kata komoditi menjadi komoditas, karena menurut KBBI, kata yang baku adalah komoditas, bukan komoditi
  4. ^ Lihat bagian diskusi halaman ini
  5. ^ Walaupun “Prancis” lebih dianjurkan, Wikipedia bahasa Indonesia menggunakan ejaan “Perancissesuai konsensus.
  6. ^ Kata standardisasi memang dieja tanpa mengesampingkan huruf d antara standar dan -isasi, seperti halnya di kata implemen yang menjadi implementasi.

SUMBER: http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Pedoman_ejaan_dan_penulisan_kata

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: